Menulis itu menumbuhkan.
Ya.. menulis itu menumbuhkan, sama seperti halnya proses pertumbuhan kita. Perlu belajar merangkak, untuk dapat berjalan.
Mengapa begitu? Karena menurutku, sebuah tulisan juga butuh proses belajar untuk menuai hasil tulisan yang baik.
Menulis itu menumbuhkan.
Sama seperti halnya seorang petani yang menanam bibit padi, buah-buahan, dan lain-lain. Dalam proses menulis, aku sendiri menganggap diriku adalah seorang petani. Aku menanam bibit-bibit pengetahuan, ingatan, serta imajinasi di kepala sendiri.
Semua yang kukatakan di atas, memang pernah kualami. Dulu, sejak SMP, aku sudah suka menulis. Namun, tulisanku dapat dikatakan "tulisan kacangan" saja, semacam curhatan-curhatan tak penting. Namun seperti yang kukatakan, semua butuh proses, bukan?
Tanpa putus asa, aku pun mencari orang-orang yang mau mengajariku menulis. Cacian demi cacian juga tak jarang kudapatkan. Tapi, bukankah sebuah cacian juga adalah sebuah pertumbuhan?
Ya, kata temanku "pujian adalah musibah, kritikan adalah anugerah". Menurutku, itu benar adanya.. sebab ketika tulisan kita sudah dikatakan "bagus", maka kita akan merasa puas hanya di situ, dan tulisan kita tidak akan bisa tumbuh menjadi lebih baik lagi.
Sebuah pujian, membuat tulisan kita menjadi cacat kaki, yang hanya bisa duduk dan berpasrah diri pada keadaan. Berbeda dengan halnya cacian. Sebuah cacian, adalah upaya tulisan kita yang sedang berusaha mendaki puncak gunung tertinggi.. pantang menyerah melewati berbagai rintangan hingga akhirnya kita sampai pada puncaknya. Sebuah proses yang sulit? Memang. Namun, ketika kita berhasil sampai di puncak gunung, bukankah itu adalah sebuah kepuasan yang tak terhingga?
Jadi, menulislah.. karena menulis itu menumbuhkan.
Selasa, 09 April 2013
Sabtu, 23 Maret 2013
Ajari Aku Caranya Berhitung
Ah, matematika!
Pelajaran yang tak mudah. Seperti sulitnya aku melupakanmu.
Kau tahu? Aku malas berhitung. Semacam harus kembali lagi mengalikan kebahagiaan kita yang terlanjur menua dengan angka-angka duka.
Belum lagi harus kuhadapi bilangan-bilangan tangen. Ah, manakutahu! Yang kutahu hanya kangen.
Aku butuh semacam guru, agar dapat mengerti kembali bagaimana menjumlahkan bahagia, mengurangi duka, atau membagi cinta.
Siapa lagi guruku selain kau, pemilik segala angka kegundahan dalam hitungan penantianku?
Rindu di Balik Pintu
Aku memberanikan diri menarik lagi tuas gagang pintu
yang lama kuabaikan, tak tersentuh tangan.
Di baliknya, rindu berkerumun
menggumuli tubuh sepi ini.
Renyah menertawakanku pasrah pada enyah.
Kejam menghantam tubuhku hingga lebam.
Bangsat-bangsat yang membuatku jatuh terkapar.
Menggelepar.
Anjing!
Aku tak mampu berdiri.
Wahai, Puan sang ratu rindu.. aku menyerah.
Hatiku sudah kau buat redam.
Langganan:
Postingan (Atom)