Menulis itu menumbuhkan.
Ya.. menulis itu menumbuhkan, sama seperti halnya proses pertumbuhan kita. Perlu belajar merangkak, untuk dapat berjalan.
Mengapa begitu? Karena menurutku, sebuah tulisan juga butuh proses belajar untuk menuai hasil tulisan yang baik.
Menulis itu menumbuhkan.
Sama seperti halnya seorang petani yang menanam bibit padi, buah-buahan, dan lain-lain. Dalam proses menulis, aku sendiri menganggap diriku adalah seorang petani. Aku menanam bibit-bibit pengetahuan, ingatan, serta imajinasi di kepala sendiri.
Semua yang kukatakan di atas, memang pernah kualami. Dulu, sejak SMP, aku sudah suka menulis. Namun, tulisanku dapat dikatakan "tulisan kacangan" saja, semacam curhatan-curhatan tak penting. Namun seperti yang kukatakan, semua butuh proses, bukan?
Tanpa putus asa, aku pun mencari orang-orang yang mau mengajariku menulis. Cacian demi cacian juga tak jarang kudapatkan. Tapi, bukankah sebuah cacian juga adalah sebuah pertumbuhan?
Ya, kata temanku "pujian adalah musibah, kritikan adalah anugerah". Menurutku, itu benar adanya.. sebab ketika tulisan kita sudah dikatakan "bagus", maka kita akan merasa puas hanya di situ, dan tulisan kita tidak akan bisa tumbuh menjadi lebih baik lagi.
Sebuah pujian, membuat tulisan kita menjadi cacat kaki, yang hanya bisa duduk dan berpasrah diri pada keadaan. Berbeda dengan halnya cacian. Sebuah cacian, adalah upaya tulisan kita yang sedang berusaha mendaki puncak gunung tertinggi.. pantang menyerah melewati berbagai rintangan hingga akhirnya kita sampai pada puncaknya. Sebuah proses yang sulit? Memang. Namun, ketika kita berhasil sampai di puncak gunung, bukankah itu adalah sebuah kepuasan yang tak terhingga?
Jadi, menulislah.. karena menulis itu menumbuhkan.
Tampilkan postingan dengan label Coretan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan Harian. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 April 2013
Jumat, 18 Januari 2013
"Mungkin.. ini yang kamu inginkan (Part I)."
Dear, Viona:
Hai, sayang.. apa kabar?
Kamu masih sibuk? Ya sudah, tidak apa-apa.. aku dapat mengerti itu. Maaf jika aku sedikit mengganggu kesibukanmu. Aku hanya meminta waktumu sedikit, sekadar memintamu untuk membaca suratku ini.
Sayang.. apa dulu kamu masih ingat ketika kita baru berkenalan? Waktu itu, kamu menuliskan sebuah sajak pendek di Personal Messages pada Smartphone-mu, dan saat itu.. dengan sigap aku langsung bergegas membalas sajakmu itu. Dari situ, kita mulai berbalas sajak dengan sangat seru, hingga pagi, hingga kita lupa waktu, sampai pada akhirnya aku memilih menyerah untuk membalas sajakmu. Kamu masih ingat itu, sayang? Ah.. semua ingatan itu masih melekat erat di kepalaku hingga saat ini.
Setelah lelah berbalas sajak, aku mengajakmu berkenalan dan lalu kita mengobrol panjang lebar tentang kebiasaan kita. Jujur.. saat itu, aku merasa sangat nyaman denganmu. Entahlah.. mungkin ini benar-benar terlihat sangat konyol. Kita belum saling bersua, belum saling mendengar suara, namun aku benar-benar merasa nyaman denganmu. Detik itu, aku mengucap syukur kepada Tuhan, sepertinya aku menemukan seseorang yang membuatku nyaman setelah dua tahun lalu aku sendiri tanpa berpendamping. Aku merasa.. kamulah jodoh yang dititipkan oleh Tuhan kepadaku.
Tapi.. sayang sekali kita belum pernah dipertemukan, karena tingkah laku jarak yang sangat jahat. Ya, aku berada di kota Batam, dan kamu berada di kota Jakarta.
Kamu tahu, besar sekali rasa inginku mengunjungimu ke kota Jakarta, yang katanya kota macet, dan sama sekali bukan kotaku itu. Tapi.. aku ini bukanlah sosok orang yang mudah menyerah begitu saja. Aku mulai berfikir, apa yang harus kulakukan sekarang ini? Apa aku hanya akan diam begini saja? Tidak.
Alhamdulillah.. Tuhan memberiku jalan agar dapat mengunjungi kotamu itu. Aku diberi job menulis dengan bayaran yang lumayan. Ya, memang tak cukup besar bayaran yang diberikan untukku.. masih belum cukup untuk membeli tiket pesawat untuk mengunjungi kotamu. Namun tak apalah.. aku coba bersabar, mungkin saja esok hari Tuhan akan memberiku rezeki lagi agar dapat mengunjungimu.
Aku berfikir dan terus berfikir, bagaimana caranya agar aku dapat membeli tiket pesawat yang seharga Rp. 460.000 itu? Oh ya.. aku masih punya sedikit sisa uang tabungan. Detik itu juga, aku langsung bergegas pergi ke ATM, dan mengambil uang Rp. 150.000.. sisa uang tabunganku. Tak megapalah tabunganku tak lagi bersisa, yang ada di benakku.. hanya dirimu, dirimu, dan dirimu.
Kamu ingat, aku sama sekali tak memberimu kabar lewat smartphone-ku selama dua hari penuh, dan kemudian kamu mulai menanyakanku.
"Ren.. kamu ke mana sih? Kenapa gak pernah ada kabar lagi sekarang?"
Aku terkejut. Ya, aku terkejut mendapat pesan darimu.. karena baru kali itulah kamu mulai menghubungiku terlebih dahulu.
"Aku lagi sibuk, maaf ya Vi belum sempat ngasih kamu kabar," jawabku
"Ya setidaknya kamu kasih kabarlah kalau kamu sibuk. Udah dua hari ini kamu gak pernah ada kabar ke aku. Ngeselin banget!" jawabmu dengan nada yang sepertinya sangat kesal karena tak ada kabar dariku selama dua hari.
Hei.. apa kamu tahu? Aku bukan hanya senang, tapi jantungku juga berdetak kencang. Aku tak menyangka kamu semarah itu jika tak mendapat kabar dariku. Aku senang. Sangat senang. Aku semakin ingin cepat-cepat mengumpulkan uang agar dapat menemuimu.
Hai, sayang.. apa kabar?
Kamu masih sibuk? Ya sudah, tidak apa-apa.. aku dapat mengerti itu. Maaf jika aku sedikit mengganggu kesibukanmu. Aku hanya meminta waktumu sedikit, sekadar memintamu untuk membaca suratku ini.
Sayang.. apa dulu kamu masih ingat ketika kita baru berkenalan? Waktu itu, kamu menuliskan sebuah sajak pendek di Personal Messages pada Smartphone-mu, dan saat itu.. dengan sigap aku langsung bergegas membalas sajakmu itu. Dari situ, kita mulai berbalas sajak dengan sangat seru, hingga pagi, hingga kita lupa waktu, sampai pada akhirnya aku memilih menyerah untuk membalas sajakmu. Kamu masih ingat itu, sayang? Ah.. semua ingatan itu masih melekat erat di kepalaku hingga saat ini.
Setelah lelah berbalas sajak, aku mengajakmu berkenalan dan lalu kita mengobrol panjang lebar tentang kebiasaan kita. Jujur.. saat itu, aku merasa sangat nyaman denganmu. Entahlah.. mungkin ini benar-benar terlihat sangat konyol. Kita belum saling bersua, belum saling mendengar suara, namun aku benar-benar merasa nyaman denganmu. Detik itu, aku mengucap syukur kepada Tuhan, sepertinya aku menemukan seseorang yang membuatku nyaman setelah dua tahun lalu aku sendiri tanpa berpendamping. Aku merasa.. kamulah jodoh yang dititipkan oleh Tuhan kepadaku.
Tapi.. sayang sekali kita belum pernah dipertemukan, karena tingkah laku jarak yang sangat jahat. Ya, aku berada di kota Batam, dan kamu berada di kota Jakarta.
Kamu tahu, besar sekali rasa inginku mengunjungimu ke kota Jakarta, yang katanya kota macet, dan sama sekali bukan kotaku itu. Tapi.. aku ini bukanlah sosok orang yang mudah menyerah begitu saja. Aku mulai berfikir, apa yang harus kulakukan sekarang ini? Apa aku hanya akan diam begini saja? Tidak.
Alhamdulillah.. Tuhan memberiku jalan agar dapat mengunjungi kotamu itu. Aku diberi job menulis dengan bayaran yang lumayan. Ya, memang tak cukup besar bayaran yang diberikan untukku.. masih belum cukup untuk membeli tiket pesawat untuk mengunjungi kotamu. Namun tak apalah.. aku coba bersabar, mungkin saja esok hari Tuhan akan memberiku rezeki lagi agar dapat mengunjungimu.
Aku berfikir dan terus berfikir, bagaimana caranya agar aku dapat membeli tiket pesawat yang seharga Rp. 460.000 itu? Oh ya.. aku masih punya sedikit sisa uang tabungan. Detik itu juga, aku langsung bergegas pergi ke ATM, dan mengambil uang Rp. 150.000.. sisa uang tabunganku. Tak megapalah tabunganku tak lagi bersisa, yang ada di benakku.. hanya dirimu, dirimu, dan dirimu.
Kamu ingat, aku sama sekali tak memberimu kabar lewat smartphone-ku selama dua hari penuh, dan kemudian kamu mulai menanyakanku.
"Ren.. kamu ke mana sih? Kenapa gak pernah ada kabar lagi sekarang?"
Aku terkejut. Ya, aku terkejut mendapat pesan darimu.. karena baru kali itulah kamu mulai menghubungiku terlebih dahulu.
"Aku lagi sibuk, maaf ya Vi belum sempat ngasih kamu kabar," jawabku
"Ya setidaknya kamu kasih kabarlah kalau kamu sibuk. Udah dua hari ini kamu gak pernah ada kabar ke aku. Ngeselin banget!" jawabmu dengan nada yang sepertinya sangat kesal karena tak ada kabar dariku selama dua hari.
Hei.. apa kamu tahu? Aku bukan hanya senang, tapi jantungku juga berdetak kencang. Aku tak menyangka kamu semarah itu jika tak mendapat kabar dariku. Aku senang. Sangat senang. Aku semakin ingin cepat-cepat mengumpulkan uang agar dapat menemuimu.
Langganan:
Postingan (Atom)